TPNPB-OPM Kecam Jefry Bomanak, Tegaskan Tidak Mengakui Kepemimpinannya

Papua – Ketegangan internal dalam tubuh gerakan Papua Merdeka kembali mencuat setelah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyampaikan pernyataan keras terhadap Jefry Bomanak. Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, secara terbuka menolak klaim Jefry yang selama ini menyebut dirinya sebagai Ketua OPM.

Dilansir dari cbnn, dalam pernyataannya, Sebby menegaskan bahwa perjuangan Papua Merdeka tidak dijalankan melalui pernyataan di media, melainkan melalui aksi nyata di lapangan melawan kekuatan kolonial yang masih bercokol di Tanah Papua.

“Jefry Bomanak jangan asal bicara. Kami berjuang dengan senjata, bukan dengan narasi kosong. Dia justru menipu dan memeras rakyat Papua, khususnya yang berada di Papua Nugini,” ujar Sebby.

Lebih lanjut, Sebby mengungkapkan bahwa Jefry diduga telah melakukan tindakan tidak etis saat berada di Vanimo, Papua Nugini, termasuk mencuri uang pribadi miliknya dan merampas dana bantuan kemanusiaan yang dikirim dari Jayapura untuk korban bencana di PNG.

“TPNPB-OPM tidak pernah menerima atau mendengar perintah dari Jefry Bomanak. Organisasi yang dibentuknya tidak diakui oleh struktur komando kami. Kami tunduk pada satu komando nasional dengan 29 Kodap aktif di seluruh Papua Barat,” tegas Sebby.

Pernyataan ini mempertegas perpecahan di tubuh gerakan Papua Merdeka yang selama ini dihantui dualisme kepemimpinan dan perbedaan strategi perjuangan. Di satu sisi, TPNPB-OPM konsisten dengan pendekatan bersenjata, sementara tokoh-tokoh seperti Jefry Bomanak lebih banyak muncul di media dengan klaim sepihak.

Polemik ini dinilai dapat melemahkan konsolidasi internal kelompok separatis, sekaligus membuka ruang bagi pihak berwenang untuk membaca dan mengevaluasi kekuatan serta arah gerakan mereka.

Salah satu aktivis Papua merdeka menilai perpecahan ini telah berlangsung lama, dan telah berdampak kepada simpatisan Papua merdeka yang semakin mundur, karena menilai perjuangan yang telah dilakukan hanya sia-sia.

“Saya menilai mundurnya atau semakin berkurangnya simpatisan Papua merdeka karena mereka melihat bahwa perpecahan yang terjadi tidak berdampak baik bagi simpatisan, sehingga mereka banyak yang kembali fokus kepada kuliah mereka,” ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya memberikan contoh pada 1 Mei 2025 yang biasanya ada aksi memperingati hari Aneksasi, tetapi kemaren tidak dilakukan oleh para simpatisan karena dinilai kegiatan tersebut tidak bermanfaat.

“Saat ini semakin banyak mahasiswa yang sebelumnya merupakan simpatisan Papua merdeka telah menyadari bahwa pendidikan lebih penting bagi mereka sendiri,” tuturnya.